Kutemukan Surga Dunia di Natuna (Part II)


Aku dan teman-teman sampai di rumah Dea, rumah yang akan kami tinggali selama satu minggu ke depan. Rasanya lelah sekali namun tak sabar untuk pergi berkeliling. Mama Dea menyarankan kami untuk makan dan istirahat dulu, mengumpulkan energi untuk jalan-jalan nanti sore. Kami semua menuruti saran beliau, aku harus bersabar. Berkeliaran di siang hari cukup panas juga.
Udaranya segar sekali, air ombaknya kuat, sesekali kami terkena cipratan ombak. Angin bertiup kencang, bahkan kami harus teriak-teriak jika mau berbicara, suara kami terbawa angin! Hahahaha. Kami foto-foto di pantai Sisi, yang merupakan pantai terbersih se Indonesia. Aku mengguratkan tulisan di atas pasir, kemudian ombak menghapusnya hahaha persis kaya anak-anak galau di pantai. Setelah puas foto-foto, kami makan mi di warung tepi pantai. Nikmat sekali, benar-benr surga dunia!
Matahari hampir terbenam, kami harus segera pulang karena perjalanan menuju rumah sepi dan gelap. Mata kami harus awas, kalau tidak bisa-bisa terperosok ke semak-semak. Jalannya bergelombang, naik turun tanjakan seru sekali! Sampai di rumah, kami segera mengecas handphone masing-masing, karena Dea berkata bahwa listrik hanya menyala pada jam enam sore hingga jam dua belas malam! Aku yang tidak bisa tidur tanpa kipas angin sedikit gelisah, takut ngga bisa tidur nyenyak.
Setelah makan malam, aku ingin mengunggah foto di instagram, tapi loadinnya lemot sekali. Teman-temanku pun begitu. Padahal kami udah pake provider mahal yang sinyalnya penuh, tapi tetap saja sampai di Serasan, Natuna, jaringannya “E”. Provider yang bernuansa merah tersebut juga merupakan jaringan satu-satunya yang ada di Serasan. Namun ini tahun 2015 ya, kalo sekarang sih di sana udah lancar video-call-an hihihi. Meskipun begitu, aku dan teman-teman menikmati liburan tanpa sinyal, kami bertukar cerita, dan sesekali Mama dan Bapaknya Dea bercerita tentang hal-hal terkait di Serasan yang terkadang membuat kami takjub ataupun merinding. Hari sudah malam, hari pertama di Serasan sudah kami lalui dengan bahagia. Aku juga sempat menandai spot-spot foto yang “instagramable” hahaha. Soalnya beberapa rumah di sana masih memegang teguh ketradisionalan, rumahnya cantik-cantik. Listrik sudah padam, kami pun bergegas tidur. Ternyata tak seperti yang kubayangkan. Udaranya cukup dingin, tak pakai kipas angin pun bukan mengapa.

Dea, Yolan, Aku dan Dwi. Fotonya udah kaya cover album belom?
 
Aku dan kak Uli saat yang waktu itu masih jomlooo hihi
Hari-hari selanjutnya di Serasan kualami dengan bahagia, tak ada kendala yang berarti. Aku dan teman-teman sudah terbiasa hidup tanpa sinyal. Oh iya, saat itu juga ada peringatan Isra’ Mi’raj. Perayaan di sini menurutku cukup heboh, sebab sampai diadakan lomba pawai, pake gerobak segala pokonya rame banget! Malam sebelumnya, diadakan ceramah setelah salat isya. Sejujurnya aku males pergi, soalnya disuruh pake baju kurung dan aku ngga punya. Sedangkan Dwi dan Yolan pake baju kurung punya Dea karena pada muat, sedangkan aku? Tapi kata Dea kalo abis ceramah suka dikasih sate. Aku pun bergegas siap-siap, dan menuju masjid bersama mereka. Ya Allah ampuni hamba, motivasi mendengarkan ceramah cuma karna sate :D
Pawainya diikuti banyak peserta. Pokoknya meriah banget dah! Pada lomba kompak-kompakan juga natar kelompok pengajian. Rameeee!

Foto sama gerobak sebelum bunganya pada dicopotin hihihi

Di Serasan ada banyak pantai, tapi aku lupa yang aku ingat hanya Sisi dan Tebung. Nah, hari itu aku dan teman-teman, serta keluarga Dea pergi ke pantai Tebung. Pantainya terletak di ujung. Kami berangkat sekitar jam sembilan, udaranya segar sekali ditambah sinar matahari yang hangat benar-benar membuatku terlena akan suasana ini, suasana yang slalu kurindukan. Gimana ngga rindu coba, saat jalan menuju ke pantai, aku membelakangi bukit, dan di depanku pantai. Di sekelilingku pohon-pohon, sesekali rumah warga. Ya ampuuun benar-benar pengen kesana lagi! Sepanjang jalan menuju pantai Tebung tak berhenti aku teriak-teriak di motor liat ombak laut yang cukup tinggi dan airnya biru banget! Ya Allah indah banget pokoknya, soalnya aku ngga pernah liat air laut yang segitu birunya hahaha.
Belakangnya bukit, aku lagi menghadap pantai yang air lautnya biru ituuuu! Siapa bilang orang gendut nggak bisa foto terbang kaya gini, hah?!

Sesampainya di Tebung, benar-benar hanya aku dan rombongan yang mengunjunginya. Sebelumnya ada orang sih, tapi udah pergi pas kami datang. Pantai Tebung ini rasanya milik pribadi, hanya milik kami saja hahaha. Di sana kami bermain, ayun-ayunan, dan mengubur aku di pasir-_- Tak lupa foto-foto pastinya! Oh iya, di pantai Tebung ini ada kanal pertemuan antara air laut dan air tawar, airnya jernih gila keren banget aku nggak pernah liat ginian!!! Air tawarnya juga sejuk, kami main-main di sana sambal cerita-cerita, pokonya seru banget dan mungkin momen itu takkan pernah terulang lagi :’)
Sukur deh ayunannya nggak roboh :') Berasa anak pantai cuy!
 
Airnya jernih banget kaaan. Ini air di kanalnya gaes, pertemuan antara air laut dan air tawarnya.

Ya ampuuun aku kenapa sih? :')

Kata mamak Dea, laut ini sudah berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Sebenarnya Serasan ini juga sempat hampir diperebutkan, duh jangan sampe direbut beneran deh ya! Kata bapak Dea, beberapa meter dari bibir pantai itu udah banyak karang-karang, katanya di hari berikut kami bakal diajak pergi menginjak karang. Waw! Aku agak terkejut. Gimana bisa? Oh iya di pantai Tebung ini juga tempat bertelurnya para penyu, tapi pada malam hari dan itupun kalo beruntung. Sebenarnya aku ingin melihat langsung apalagi katanya lagi musim, namun karena keadaan tak memungkinkan aku hanya bisa mendengar ceritanya. Duh, membayangkan saja seru apalagi liat langsung ya!
Setelah puas bermain dengan air laut kami membilas badan di air tawarnya. Sejuk sekali, jernih pula. Aku dan teman-temen berasa mermaid lagi mandi huahahaha. Namun tetap saja kami pulang basah kuyup, lewat jalan yang berbeda dan ternyata jalannya lebih curam! Waktu itu motor yang kubawa sampe nggak naik tanjakan dan terpaksa Yolan harus turun dari motor hahaha.
Selain pantai Tebung, kami juga pergi mengunjungi Batu Catur. Ada kisah dibaliknya tapi aku lupa hehehe. Kami harus naik turun dan jalan kaki, lewat semak-semak untuk menuju Batu Catur. Benar saja, ada batu seperti papan gitu, luas sekali. Ada garis petak-petaknya. Kami foto-foto dan menikmati angina laut, duh pokoknya sedap sekali! Pas kami lagi asyik berfoto ada seorang nelayan yang sedang menepi ternyata membawa kepiting banyak sekali dan harganya murah! Aku lupa berapa, yang pasti jaauuuuh lebih murah daripada di Pontianak hihihi. Aku benar-benar merasakan kehidupan pesisir gaes! Dan psssst, untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku aku makan kepiting hauaha dasar "sepok"! :D

Aku dan mamak Dea liat hasil tangkapan nelayan. Masih seger cuuuy! Kepitingnya mana ya gak keliatan? :D

Tersisa beberapa hari lagi di Serasan sebelum pulang ke Pontianak, tapi rasanya aku belum puas berkelana. Mamak Dea katanya mau ajak kami berkeliling satu pulau dengan menggunakan motor, katanya cuma beberapa jam saja! Selain itu, katanya Bapak Dea akan mengajak kami ke suatu pulau yang terkenal sedikit mistis hiyyyy! Nantikan kisah berikutnya di part selanjutnya ya! Hihihihiyyyy :D

You Might Also Like

2 Comments