Kutemukan Surga Dunia di Natuna (Part I)




         "Remember that happiness is a way of travel, not a destination" - Roy M. Goodman 

Mencari jodoh hingga ke lautan, namun tak kunjung kutemukan



Malam itu aku gelisah banget. Bimbang. Bukan karena tugas kuliah ataupun seseorang, melainkan tentang kepergianku besok. Sudah lewat tengah malam, aku harus segera tidur.
Aku bangun pagi lebih awal, ya jelas! Hari itu aku semangat sekali padahal juga belum pasti, jadi pergi atau nggak. Aku ngabarin teman-temanku, siap-siap saja dan berharap jadi. Perlahan-lahan aku memasukkan baju dan seluruh perlengkapanku ke dalam tas dorong berwarna hijau. Jika ia bernasib baik, tas dorong hijau yang mirip kereta bayi ini akan turut serta dalam perjalan kali ini. Seru dan penuh tantangan, mesti tiket kepergian belum di tangan. Perizinan dan uang saku sudah kudapatkan, aku dan temanku pergi menuju penjualan tiket.
Dea, temanku yang akan kami kunjungi kampung halamannya bilang kalo tiketnya masih banyak tapi aku nggak begitu yakin kalo belom memastikannya sendiri. Dia sih enak, udah beli jauh-jauh hari. Apalagi akhir tahun, katanya banyak yang pulang kampung. Aku semakin takut kalo pada akhirnya nggak kebagian tiket.

Akhirnya kebagian tiket!



Kami berlima, aku, Kak Uli, Dwi, Yolan dan Dea duduk di kursi tunggu. Kami masih nggak nyangka liburan bareng yang nggak begitu direncanakan ini jadi juga! Kami udah ngebayangin hal-hal seru apa yang akan kami lakukan sesampainya di sana. Sungguh, kami nggak sabar banget apalagi ketika suara pluit kapal berbunyi. kami udah kegirangan aja padahal kapal itu masih jauh dan perkiraan Dea kami semua akan naik ke kapal sekitar dua jam lagi. Iya, naik kapal. Aku terakhir naik kapal di tahun 2000an, kebayang kan aku masih kecil bangeeet, ya meskipun di antara anak-anak seusiaku tetap aku yang paling besar. Setelah sekian lamanya, di tahun 2015 aku bisa menginjakkan kaki di atas kapal. Dea yang sudah sering naik kapal untuk pulang ke kampung halamannya di Serasan, Natuna (saat itu, satu-satunya transportasi ke Serasan hanya kapal) ini berkata kita nggak boleh kalah desak-desakan sama penumpang lain, dan harus ngambil dek (lantai) yang paling atas karena semakin atas lantainya semakin nggak bikin mabuk laut.
            Seluruh penumpang pun dipanggil untuk menuju kapal. Tepat di garis batas mengantri sungguh berdesak-desakan dengan bau yang nggak karuan hahaha. Benar-benar nggak tertib. Dan benar saja kata Dea, setelah seluruh penumpang diinstruksikan menuju kapal semuanya berlarian berhamburan untuk merebut tempat yang paling nyaman, termasuk kami semua. Aku ngos-ngosan banget, ketika akan menaiki tangga ke kapal ada yang ingin merangsek dan mendorongku dari belakang, syukur saja badanku besar jadinya ngga mempan tuh hahaha. Namun aku cukup kesulitan membawa tas dorong hijau yang mirip kereta bayi itu, sungguh merepotkan! Sementara kakak dan teman-temanku udah sampai di atas terlebih dahulu dengan barang mereka masing-masing kecuali Dwi, dibawain sama pacarnya, Wahyu. Mereka nggak tega ngeliat aku bawa-bawa tas gede berat dan mencolok beserta roda-rodanya itu di tengah keramaian, mau turun menyusulku juga susah. Akhirnya setelah membantu Dwi, Wahyu turun membantuku yang malang di tengah keramaian ini. Pada akhirnya kita semua sampai di tempat yang nggak ada nyaman-nyamannya dan memilih menyewa kamar. Waktu itu, sewa kamar yang berisi dua tempat tidur tingkat dan satu kamar mandi sebesar lima ratus ribu rupiah. Lumayan, kami patungan untuk membayar kamar. Kami berlima dan kasurnya ada empat, jadi salah dua dari kami harus tidur di satu kasur, bersama. Pastinya, yang kurus yang ngalah hahaha. Kami sungguh menikmati perjalanan tanpa sinyal ini, dengan suara ombak dan mesin kapal yang bersahut-sahutan, angin yang berhembus dingin dan aku berdiri di tepi kapal, syahdu sekali. Aku jadi ingat film Titanic, bagaimana romantisnya Rose dan Jack bermain-main di atas kapal, seketika aku ingin seperti mereka namun aku lupa endingnya kapalnya kan tenggelam-_- Aku nggak mau, biarlah jomlo tapi sampai dengan selamat, aku ingin liburan bukan tenggelam :”( Aku buka playlist lagu di handphone-ku dan memutar lagu Sandhy Sandoro-Tak Pernah Padam yang kuputar berulang-ulang yang menjadi teman perjalananku yang seru kali ini.
Tak terasa sudah pagi, tapi kami masih tidur-tiduran di kamar. Niatan mau ngeliat sunrise pun batal karena kami semua mabuk laut. Sekitar jam delapan, kami semua keluar dan mengambil sarapan. Kami duduk di kursi kantin. Sepanjang perjalanan kami ngobrol dan tertawa ria, kami semua sudah sembuh dari mabuk laut. Suara kami berlomba-lomba dengan desing mesin kapal yang berisik, deru angina yang segar, dan ombak yang bergulung-gulung menyisakan riak setiap beberapa meternya. Suasana hangat, ditambah sinar matahari yang mengintip, pagi kami kala itu sempurna sekali tanpa kendala yang berarti sedikitpun.
Pengumuman dari pengeras suara pun terdengar mengabari penumpang bahwa kapal akan segera sampai tujuan. Kami bergegas menuju kamar dan mengemasi barang-barang. Kapal berhenti sempurna, penumpang dikerahkan turun ke kapal kecil, seperti kapal nelayan. Kaapal besar itu berhenti di agak tengah laut, nggak bisa di tepi dermaga karena banyak karang, jadi jangkar kapal nggak bisa ditancap di karang-karang itu. Petugas yang memberi instruksi saat itu galak sekali, kami disuruh turun dengan cepat tanpa memilih-milih kapal kecil (kapalnya ada dua). Kapal kecil pertama ramai sekali aku takut tenggelam, mana disuruh turun cepat-cepat lagi. Hei pak pura-pura nggak tahu ya, bobot tubuh saya berat dan tangganya goyang-goyang, kanan kiri bawah masih laut semua. Kakiku gemetaran gaessss! Aku duduk dengan cemberut abis diomelin bapak-bapak yang perutnya gendut itu, menyebalkan sekali! Aku duduk di sisi tepi kapal, banyak sekali barang-barang bawaan penumpang. Ada motor, sepeda, karung belanjaan, dan ada kandang ayam tepat di depanku! Kapal kecil kami sudah ramai penumpang dan siap berlayar ke dermaga. Saat kapal jalan, seketika itu juga omelan-omelan petugas tadi terhempas ke laut. Indah sekali pemandangannya. Berlayar dengan kapal kecil di agak tengah laut yang dikelilingi perbukitan, Ya Allah indah sekali ciptaan-Mu :’)

Tangga yang bikin kakiku gemetaran. Kalo dinaikin kuat sih, tapi goyang-goyang gaes!

Aku menikmati suara gaduh dan percakapan di kapal kecil ini, riuh sekali. Tiba-tiba pintu kendang ayam di depanku lepas, dan anak-anak ayam berhamburan keluar. Orang-orang di sekitar kendang heboh menangkap anak ayam, apalagi si pemilik kandang. Takut anak ayamnya terjun ke laut dan tewas. Aku cuma bisa tertawa sambil merekam peristiwa tersebut hehehe. Sesampainya di dermaga, aku masih menunggu Dea dan Yolan yang naik kapal kecil kedua, relatif sepi. Seorang bapak-bapak menanyaiku, “Dek, mau liburan kesini ya?, tanyanya. Mungkin ia mengenali aku bukan penduduk Serasan, dan gayaku cukup mencolok. Pakai baju pink dangdut dengan kerudung pink susu, sambil membawa tas dorong hijau yang terang sekali :D Akupun menjawab,”Iya pak. Mau liburan ke kampung halaman teman”. Bapak itu menyahut lagi,”Oh, ada ya yang mau liburan ke kampung. Biasanya kan orang-orang pengen ke kota”. Aku tersenyum dan membalas,”Iya pak, mau ngerasain suasana alam”. Kami pun ngobrol mengenai desa itu hingga kapal kecil kedua tiba, dan obrolan kami berhenti, ternyata ia menunggu barangnya yang ada di kapal kedua.


Penampakan yang cukup mencolok. Tas nya bikin ribet, sungguh!
 

Kami sudah lengkap, dan siap dijemput. Aku melihat handphoneku, sekitar jam 10 pagi. Aku melihat sekeliling, dan rasanya pulau ini bisa kupeluk. Mamak dan Bapak Dea datang menjemput kami menggunakan motor, kami dibonceng bergantian hingga menuju rumah. Sepanjang jalan menggunakan motor, jalannya bergelombang, ku selalu menemui tanjankan dan turunan, udaranya segar sekaliiiiiii. Rasa senang berkali-kali lipat dibandingkan rasa lelah. Aku tak sabar menjelajahi tempat-tempat yang menakjubkan di pulau ini. Dear Serasan, be nice selama seminggu ke depan yaaaa!!!
Bersambung….

You Might Also Like

0 Comments